Kamis, 14 Juni 2012

Tafsir QS Al-Mukminun : 1-11

ORANG BERIMAN YANG BERUNTUNG

Tafsir QS. Al Mukminun: 1-11


Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya (2), dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3), dan orang-orang yang menunaikan zakat (4), dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (5), kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa (6), Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas (7), dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8), dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya (9), mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya (11).


Firman Allah

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. Aflaha arti secara bahasa adalah masuk dalam keberuntungan. Maksudnya, mereka telah mendapatkan kemenangan, kebahagiaan, dan memperoleh keberuntungan. Mereka itulah orang-orang mukmin yang mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : khasyi’un (orang-orang yang khusyuk) yaitu orang-orang yang takut lagi penuh ketenangan. Al Hasan Al Bashri mengungkapkan: kekhusyukan mereka itu berada di dala hati mereka, sehingga karenanya mereka menundukkan pandangan serta merendahkan diri mereka. Khusyuk dalam shalat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengkonsentrasikan hati padanya serta melupakan aktivitas lain selain shalat, serta mengutamakan shalat atas aktivitas yang lain. Pada saat itulah akan terwujud ketenangan dan kebahagiaan baginya.

Khusyuk dalam shalat wajib karena beberapa hal:

a. Untuk dapat menghayati bacaan, sebagaimana firman Allah: Afala yatadabbarunal qurana am ‘ala qulubin aqfaaluhaa “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad, 47: 24). Sedangkan penghayatan agar mengetahui berbagai rahasianya yang menakjubkan, hukum dan hikmahnya yang indah, tidak akan tercapai tanpa mengetahui makna, Warattilil quraana tartiila “Dan bacalah al quran itu dengan tartil” (QS. Al Muzammil, 73:4)

b. Untuk mengingat Allah dan takut kepada ancaman-Nya, sebagaimana firman-Nya: Aqimish shalata lidzikri “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha, 20:14)

c. Sesungguhnya orang yang mengerjakan shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb nya, sedangkan berbicara dalam keadaan lengah (tidak khusyuk) tidak bisa disebut bermunajat sama sekali. Karena itu dikatakan shalat tanpa kekhusukan bagaikan jasad tanpa ruh. Jumhur ulama mengatakan, khusyuk bukan syarat untuk keluar dari ikatan taklif dan pelaksanaan kewajiban, tetapi syarat untuk tercapainya pahala di sisi Allah dan tercapainya keridhaan-Nya.

2. Berpaling dari hal-hal tidak berguna

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) tidak berguna”, yakni dari kebatilan. Yang mana hal itu mencakup juga kemusyrikan, maksiat, serta berbagai ucapan dan perbuatan yang tidak berfaedah, sebagaimana Allah berfirman: Wa idza marru bil laghwi marru kirama “Dan apabila mereka bertemu (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-erbuatan yang tidak berfaedah, mereka (lalui) saja dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. Al-Furqon:72)

3. Membersihkan diri dengan menunaikan zakat

Orang-orang yang untuk membersihkan dan mensucikan dirinya menunaikan zakat yang diwajibkan, sebagaimana firman Allah Qad aflaha man zakkaha (QS. Asy Syams, 91:9).

4. Memelihara kemaluan

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” Yakni orang-orang yang memelihara kemaluan mereka dari yang haram, sehingga mereka tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang Allah, baik itu dalam bentuk perzinaan, homoseksual, dan sebagainya. Dan mereka tidak mendekati kecuali isteri-isteri mereka sendiri yang telah dihalalkan oleh Allah bagi mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Barangsiapa yang mengerjakan apa yang telah dihalalkan oleh Allah, maka tiada celaan dan dosa bagi mereka. Sedangkan selain isteri dan budak, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dengan ayat ini, Imam Syafii dan orang-orang yang sejalan dengannya mengharamkan onani. Wallahu a’lam

5. Memelihara amanat dan janji

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” yakni, mereka bila diberi kepercayaan, maka mereka tidak akan mengkhianatinya tetapi mereka akan menunaikannya kepada yang berhak. Dan jika mereka berjanji atau melakukan akad perjanjian, mereka menepatinya, tidak seperti sifat-sifat orang munafik. Mereka memelihara kepercayaan yang diserahkan kepada mereka dan janji yang mereka adakan, baik dari Tuhan maupun dari hamba, seperti kewajiban syar’i, harta titipan, dan perikatan lain yang mereka adakan bersama.

6. Memelihara shalat

“dan orang-orang yang memelihara shalatnya”. Maksudnya, mereka senantiasa mengerjakan tepat pada waktunya. Begitu pentingnya shalat. Allah telah mengawali sifat-sifat terpuji ini dengan shalat dan menutupnya dengan shalat pula.,sebagaimana yang diungkapkan Ibnu Mas’ud ra: aku bertanya kepada Rasulluah saw, kutanyakan: “Ya Rasulullah, amal perbuatan apakah uang paling disukai Allah?” beliau menjawab: “shalat pada waktunya”. Lalu apa lagi? Tanyaku. Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”. Lalu apa lagi? Tanyaku lebih lanjut. Maka beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah”. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dalam kitab ash-shahihain. Qatadah mengatakan: “tepat pada waktunya, ruku’, dan sujudnya”.

Setelah Allah swt mensifati mereka dengan sifat-sifat terpuji dan berbagai perbuatan mulia, Allah berfirman:

“Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “tidak seorang pun dari kalian melainkan mempunyai dua kedudukan. Satu kedudukan di surga, dan satu kedudukan di neraka. Jika dia mati dan masuk neraka, maka kedudukannya yang di surga akan diwarisi oleh penghuni surga. Dan itulah makna firman-Nya:’Mereka itulah orang-orang yang mewarisi’ (HR. Ibnu Majah)

Lalu, kenapa surga firdaus? Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling tengah-tengah dan paling tinggi. Darinya mengalir sungai-sungai surga. Di atasnya terdapat ‘Arsy Ar Rahman (Rabb yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sumber:

DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. 2008. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6. Jakarta: Pustaka Imam Syafii, p 201-204

Ahmad Musthafa Al Maraghi. 1989. Terjemah Tafsir Al Maraghi Juz 18. Semarang: CV. Toha Putra, p 2-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar