Angka Kematian ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg
Angka Kematian ilustrasi Rendra Purnama/Republika
Ia terlahir ke dunia ini dengan nama Aji. Ya, panggil saja Aji. Pria yang satu ini benar-benar senang berhitung. Ia akan menghitung apa saja yang ditangkap oleh matanya, direkam oleh te linganya, dan dikecap oleh hatinya. Misal, mengkalkulasi tapak kakinya ke sekolah, lalu mencacah burung dissermurus paradiseus yang meliuk-liuk di langit cerah, menganalisa sebaran awan putih yang terkatung-katung di langit biru, meramal peluang hujan, membilang banyaknya dedaunan yang gugur per satuan waktu, dan entah apa lagi.

Semua itu akan ia hitung sebisa mungkin. Pria dengan binar mata yang selalu liar dan tajam menerobos apa saja itu kerap berhitung dengan mulut kadang terkunci, komat-kamit, atau kombinasi keduanya. Kebiasaannya ini diakari oleh rasa cintanya pada ilmu hitung yang bergejolak sejak kecil. Hati dan pikirannya telah tertambat kuat pada hal yang kadang tak disukai oleh teman-temannya.
“Berapa lama waktu tempuhmu hari ini?” tanya Badrun saat Aji memasuki ruang kelas yang masih sepi. Pagi itu, Badrun belum lama tiba bersama Indra.
“12 menit lebih 15 detik,” sahut Aji mantap seraya melirik arloji hitam di tangan kirinya. Tanpa membuang tempo, ia kemudian menghitung banyaknya petak-petak lantai berbentuk persegi 30 cm x 30 cm yang ditapakinya.
“Hei, Aji! Bisakah kau sehari saja tidak berlaku aneh seperti itu?” pekik Indra. Suaranya memecah keheningan kelas pagi itu. Lengang patah. Damai pagi ternodai.
“Aku tak peduli dengan kata-katamu! Berhentilah mengurusi kelakuanku!” Aji mengaum geram. Badrun kaget. Terperanjat. Indra tersudut.
Aji sudah akrab betul dengan kata-kata Indra itu. Sejurus, ia menyapu Indra dengan pandangan tajam. Sesuatu bergetar di dasar dadanya. Mula-mula getarannya lemah. Tapi makin lama getaran itu kian mendesir-desir dalam darahnya.
Kesiur angin pagi berhembus seolah ingin melumuri kalbu yang sesak. Sesaat senyap pun hadir. Mereka berada pada pikirannya masing-masing. Badrun terpaku. Indra membisu. Aji mengurai detik yang luruh.
***
Malam ini resah menggelayuti Aji. Sindiran Indra itu masih mengiang-ngiang di telinganya. Kata-kata itu menelusup perlahan ke ceruk-ceruk pikirannya, membuatnya mengail-ngail sesuatu yang terasa menikam-nikam. Ia tak mampu memejamkan mata. Ah, ia mencoba menghitung sesuatu, berharap bisa tertidur.
“Di mana aku? Mengapa aku berada di tempat seperti ini? Tempat apa ini? Tolong keluarkan aku dari sini!”
Lima….lima….lima….. Mengapa banyak sekali angka lima di tempat ini? Ah… makhluk apa itu? Tiiidaaak….” Aji terjaga dari tidurnya. Ia tergeragap. Keringat dingin pun mengucur deras. Mukanya pucat pasi. Dipandangnya jam dinding kamar menunjukkan pukul 03.37 dini hari. Batin dan benaknya berletupan. Baru kali ini ia bermimpi seaneh dan sekejam itu. Ia limpung seketika.
***
“Aku seperti terjebak di dalam ruangan gelap yang dipenuhi oleh begitu banyak angka 5. Apa kau tahu arti mimpiku itu?”
“Selain angka 5, aku juga melihat seorang lelaki berpakaian hitam terus mengejarku. Aku takut jika sesuatu yang buruk akan menimpaku.” Aji gundah. Air mukanya tak menentu.
“Aku tidak begitu mahir menafsirkan mimpi, Ji. Tapi yang kutahu angka 5 itu sering disebut sebagai bintang jahat. Bintang yang tidak menguntungkan setiap orang. Angka 5 adalah angka yang paling susah dikombinasikan dan dipercaya membawa gangguan penyakit. Dalam ilmu Feng Shui angka ini selalu diperangi, Ji.” ujar Badrun.
“Ceritakan padaku lebih banyak lagi tentang angka 5, Drun! Apa lagi yang kau tahu tentang angka 5?” desak Aji penasaran berbaur khawatir. Ada yang terasa berat menyesak.
“Jika angka itu muncul bersamaan dalam bagan tahunan dan bulanan maka sangat diyakini akan menciptakan kecelakaan fatal.” Badrun mengeluarkan isi otaknya dengan hati-hati.
“Ada yang lebih menakutkan selain angka 5, Ji. Yaitu angka 4. Angka yang satu ini sering disejajarkan dengan huruf ‘D’ yang merupakan huruf ke-4 dalam Alphabet. ‘D’ sendiri adalah huruf awal dari kata ‘Death’ atau ‘Die’ sehingga angka ini dianggap sebagai angka kematian. Angka yang juga bisa berasal dari penjumlahan bilangan sial 13, Ji.”
“Jadi, angka 4 lebih sial dari angka 5? Begitu kanmaksudmu, Drun?”
“Ya, Ji.” Aku pernah membaca bahwa sebagian bangsa-bangsa di Asia, khususnya di bagian utara mulai dari daratan Cina ke timur, angka 4 dipercaya merupakan simbol bencana, tidak mendatangkan keberuntungan, dan berbagai kepercayaan yang mengarah pada sebuah kegagalan. Jika suatu saat nanti kau pergi ke Korea, jarangkan kau temui gedung bertingkat dengan nomor lantai 4.” Badrun mencoba meyakinkan Aji.
“Lalu, aku harus bagaimana menghadapi semua ini?”
“Kau tak perlu takut berlebihan. Mungkin itu hanya akibat dari kebiasaanmu yang selalu menghitung apa saja yang tak penting untuk dihitung. Begitu banyak nikmat Tuhan untuk kita. Dan, kau tahu kan bahwa manusia tak mampu menghitung nikmat Tuhan? Syukur, itu kuncinya, Ji.” Badrun meluncurkan solusinya.
“Aku bingung memikirkan mimpimu itu, Ji. Mengapa kau tak bermimpi angka 1 yang dalam Feng Shiu dikenal sebagai bintang uang, angka 6 atau bintang surga, atau angka 8 yaitu bintang kekayaan? Mengapa harus angka 5?” Badrun kini bertanya pada Aji. Aji terdiam sejenak lalu mencoba menjawab.
“Kurasa itu masih lebih baik daripada angka 4,” ucap Aji lirih, menepis rasa takut.
“Ah, kau ini. Sudah lupakanlah semua itu. Kau tahu, kita tak boleh percaya dengan hal-hal tahayul seperti ini. Cukup tahu saja, Ji. Tak usah kita yakini. Lebih baik kau perbanyak shalat dan zikir. Dengan begitu, kuharap kau akan tenang.”
Aji termenung sejenak lalu matanya melalang lepas menghitung banyaknya dedaunan yang luruh dari atas pohon yang tegak menjulang di depannya.
***
Malam acap kali bergulir dengan mengukir mimpi angka 5 yang getir. Bunga tidur yang tak pantas disebut bunga itu tak hanya bertandang sekali, tetapi berepetisi. Pikirannya seolah terbebani oleh mimpi bintang penyakit itu. Belakangan ini, ia sering kalut kala terjaga dari tidurnya. Tapi herannya, semangat menghitungnya semakin menjadi-jadi. Kecintaannya pada angka kian bergelora penuh gairah. Aji menghitung tak kenal henti. Ketika mimpinya itu datang kembali, hati dan pikirannya disesaki dengan berbagai tanda tanya. Ia berusaha mengingat angka 1, 6, dan 8 di siang hari agar berharap bisa berselayar di dunia mimpi dengan angka-angka itu. Tapi usahanya itu sia-sia belaka. Mimpinya tetap saja menyodorkan angka 5.
Kembali malam ini matanya belum bernafsu untuk terpejam. Perasaannya berkata bahwa sesuatu yang luar biasa ganjil akan terjadi. Ia seperti mencium aroma angka 5 yang dibumbui bau penyakit. Nalarnya berkelana mengacak berbagai angka. Dibacanya berbagai buku yang terkait dengan angka. Lembar demi lembar buku The History of Mathematics: From Mesopotamia to Modernity karya Luke Hodgkin yang membongkar sejarah perkembangan matematika dari masa Mesopotamia hingga abad modern, ia santap habis-habisan. Tak cukup dengan buku itu, ia melahap juga buku Occult Numbers and Sacred Geometry yang mengupas tentang angka-angka gaib dan geometri keramat.
Tetapi tetap saja, perasaan itu masih terus bergelayut dalam dirinya.
Aji memacu otaknya mencari tahu apa tafsir mimpinya itu. Betapa tidak, sudah hampir sepekan ia merasa dihantui oleh angka 5. Ia mencoba menekan kegalauan yang terus menggendang benak dan sukmanya. Matanya makin ganas terbius oleh rasa penasaran. Gugus waktu luruh seiring keinginannya mencari arti mimpi itu. Diamatinya dengan sangat lekat semua benda yang bertuliskan angka 5. Mulai dari NIP guru-gurunya, plat nomor kendaraan yang tertera angka 5, baju pemain sepakbola dengan angka 5, nomor telepon instansi di papan reklame yang ada angka 5, sampai dengan berbagai hal yang tertera angka 5. Nalarnya terus bekerja hingga akhirnya pikirannya melayang pada alam yang belum pernah ia datangi.
***
“Kau mulai kurus. Wajahmu pucat. Apakah kau masih memikirkan mimpi itu? Berhentilah memikirkan angka 5 itu. Itu hanya akan membebani pikiranmu saja. Semoga kau cepat sembuh, Ji.” Kata-kata sayu Badrun mengusap-ngusap celah jendela salah satu ruangan rumah sakit jiwa. Kata-katanya beradu dengan tatapan kosong Aji. Beban pikiran yang tak mampu dibendung telah menggiring Aji mencicipi suasana rumah pesakitan itu.
Setelah hampir sepekan merasakan dinginnya kamar rumah sakit, akhirnya Aji diizinkan rawat jalan oleh tim dokter. Ia hanya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk kembali sembuh. Tetapi ada yang berubah dari perangainya. Ia kini tak lagi senang berhitung. Ya, ia sekarang tidak lagi menghitung jejak langkahnya ke sekolah, mencacah burung dissermurus paradiseus yang melayang di langit cerah, atau menganalisis banyaknya dedaunan yang luruh seperti yang gemar ia lakukan dulu. Kini, ia seolah lupa pada kebiasaannya itu. Pikirannya tak tergerus lagi oleh hal yang beraroma angka. Semenjak kejadian itu, hidupnya terasa ringan tanpa beban. Namun, itu semua ternyata tak bertahan lama seiring kesibukannya mencari-cari sesuatu yang telah hilang dalam dirinya.
Pencariannya itu berlabuh pada suatu malam yang hitam lagi pekat ketika mimpi serupa yang pernah menyergapnya hadir kembali dengan angka baru, yaitu 4…4…4.

Amir Syam adalah nama pena dari Amir Tjolleng. Saat ini, ia tengah menempuh studi S3 di Jurusan Teknik Industri Universitas Ulsan Korea Selatan. Cerpen yang pernah ditulisnya yaitu “Senyum Lastri di Cangkir Kopi” (Suara Merdeka, 2017) dan “Di Antara Pilihan” (Balai Bahasa Sulut, 2008).