Selasa, 14 Juni 2011

Menulis Itu Sulit?

Oleh : Amir Tjolleng

            Sebagian besar orang di luar sana beranggapan bahwa menulis itu sulit, menguras banyak waktu dan hanya membuat saraf menjadi tegang. Padahal anggapan tersebut sepenuhnya keliru. Bagi sebagian orang yang sudah terjun langsung ke dunia kepenulisan, menulis adalah suatu proses yang menyenangkan. Selain bermanfaat untuk mengasah kreativitas, menulis juga dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang kita miliki. Ide yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan akan membekas lebih lama daripada sekedar ucapan. Sebagaimana ungkapan seorang pepatah asing yang berbunyi ‘scripta manent verba volant’ yang berarti bahwa yang tertulis akan tetap abadi dan yang terucap akan selalu bersama angin. Hebat, bukan?
            Nah, oleh sebab itu, bagi kamu yang masih berpikiran bahwa menulis itu tidak mudah sehingga merasa sulit untuk mulai menulis, berikut ini akan disuguhkan beberapa suplemen untuk mengubah persepsimu sebelumnya dan mendorongmu menjadi calon penulis hebat. Simak, praktekkan segera dan mari lihat hasilnya.

Minggu, 29 Mei 2011

Mentari di Ufuk Sukma

(Amir Tjolleng)
 
Kuterhanyut dalam lautan tak bertepi
Tenggelam, terpaut oleh buih-buih rana
Batinku membuncah, merambah daratan
Ingin menghias rindu
Rindu semburat sinar penyejuk batin yang tertindih
Karam sinar-sinar suci itu di ingatan

Hangat pancaran mentari pada impian kata bermakna
Menghias sukmaku bak berlian bertahta agung
Mengharum wangi sepanjang langkah
Bintang terang masa datang

Kini,
Pupuslah redup, teranglah asa
Kala mentari singgah di ufuk sukma

                                                                                   
                                                                            

Di Antara Pilihan

Amir Tjolleng

            Matahari seolah bersinggungan dengan langit. Sinarnya yang terik menancap ubun-ubun. Awan tipis mengalir perlahan bagai serpihan kapas putih yang mengapung. Udara gerah menyisir suasana. Hari tengah mencapai puncaknya.
            Seperti biasa, jika siang menyapa maka markas bercat putih itu pun mulai sunyi. Hanya sesekali kesunyian itu terganggu. Tak ada aktivitas yang berarti. Di halaman depannya, tiga praja berseragam coklat muda tampak duduk bersandar di bawah pohon ketapang besar. Ketiganya asyik bercerita tentang tugas baru mereka minggu ini sambil menghisap beberapa djarum. Sementara itu, sebagian praja yang lain menghabiskan waktu dengan berkumpul di kantin untuk sekedar ngobrol atau makan siang. Sisanya, telah dikerahkan ke pusat kota usai apel tadi pagi untuk menertibkan para pedagang yang berjubel di emperan toko.
            Pak Burhan terhenyak di kursi kerjanya. Pikirannya yang kalut membuat ruangannya terasa sempit dan menggigit. Jam dinding Seiko menjadi saksi bisu kegalauan hatinya. Surat perintah penggusuran pemukiman warga pusat kota yang baru saja ia terima dari dinas tata kota itu telah melilit kepalanya. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Tapi, sia-sia. Beban yang menghantui benaknya itu tak mau sirna.